Kamis, 02 April 2009

PPK Proyek STA SUMILLAN Didakwa 1,3 Tahun

ENREKANG — Setelah sempat tertunda pekan lalu, sidang korupsi pembangunan sarana dan prasarana Sub Terminal Agro (STA) Desa Sumillan, Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang Kembali digelar di ruang sidang PN Enrekang, Rabu, 1 April. Agenda sidang, pembacaan dakwaan dari jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Enrekang. Kedua terdakwa menjalani persidangan terpisah. Sidang pertama mendudukkan terdakwa dua, Ir Rohani Toto, selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Dinas Pertanian Enrekang dalam proyek APBN senilai Rp 1,5 miliar tersebut. Rohani selaku terdakwa dituntut JPU, Suherman SH dan I G Lanang SH, berupa
hukuman 1 tahun 3 bulan penjara plus denda Rp 50 juta subsider 3 bulan kurungan. Rohani dinilai melakukan penyalahgunaan kewenangan selaku PPK dalam proyek ini. Dia membuat berita acara persetujuan penerimaan proyek yang tidak sesuai dalam kontrak. Kepala Bidang Produksi Hortikultura Dinas Pertanian Enrekang tersebut dinilai melakukan penyalahgunaan kewenangan. Pasalnya, proyek tersebut belum rampung 100 persen, namun terdakwa telah menyatakan rampung 100 persen dan menyetujui permohonan PT Asilla Riska, Andi Abdilla (terdakwa satu) sebagai rekanan mencairkan dana proyek. Akibat perbuatan terdakwa tersebut dalam tuntutan JPU yang dibacakan secara bergantian itu, negara dirugikan sebesar Rp 52 juta.
“Untuk itu, kami memohon kepada majelis hakim agar menyatakan terdakwa Ir Rohani Toto, terbukti bersalah dan menjatuhkan vonis 1 tahun 3 bulan penjara plus denda 50 juta subsider 3 bulan penjara,” kata JPU, Suherman dalam sidang tersebut. Direktur PT Asilla Riska, Andi Abdilla, selaku terdakwa satu dinilai melanggar pasal 3 junto pasal 18 Undang-undang Nomor 19 tahun 2009 tentang tindak pidana korupsi.(FAJAR)

Selasa, 31 Maret 2009

ENREKANG MULAI KESULITAN AIR BERSIH

ENREKANG — Meski baru sepekanhujan tidak turun, namun sejumlah pelanggan Perusahaan Daerah Air Manusia (PDAM) Kabupaten Enrekang khususnya wilayah perkotaan yang Rumahnya berada di ketinggian, mulai kesulitan untuk memperoleh air bersih. Hal itu dialami warga dalam satu pekan terakhir, khususnya pemukiman Talaga, Bampu, dan Penja. Pasalnya, tiga wilayah ini cenderung berada di atas ketinggian dibanding pemukiman warga lainnya.
Direktur Utama PDAM Enrekang, Abdul Saman Bompeng mengakui jika tiga wilayah Pemukiman warga tersebut, selalu kesulitan air jika musim kemarau seperti saat ini. “Memang di wilayah itu (Penja,Bampu, dan Talaga, red) sulit dijangkau air jika debit air mulai berkurang.
Kondisi itu sudah dimaklumi warga setelah kami berikan pemahaman,” kata Saman, Selasa, 31 Maret. Dia menjelaskan, dalam kondisi kemarau seperti ini, tiga wilayah permukiman warga tersebut baru akan dijangkau air bersih jika pelanggan PDAM di wilayah dataran rendah tidak lagi mengaktifkan kran air. Menurut Saman, debit air dari sumber PDAM di mata air Malawwe, Kecamatan Enrekang, saat ini mengalami penurunan setelah sepakan terakhir wilayah Enrekang tidak lagi diguyur hujan. “Untuk wilayah kota, kita hanya menggunakan dua sumber mata air satu dari mata air Kelurahan Lewaja dan dari kampung Malawwe. Mata air Malawwe inilah
yang mengalami penurunan,” ujarnya(FAJAR)

LAJU PENDUDUK ENREKANG PESAT

ENREKANG — Laju penduduk Kabupaten Enrekang dari tahun ke tahun semakin tidak terkendali.Dalam lima tahun terakhir, penduduk Bumi Massenrempulu mengalami peningkatan hingga 32.453 jiwa. Sesuai data yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS) Enrekang,
pada 2004 jumlah penduduk Enrekang hanya 180.989 jiwa, 2005 (182.058), 2006 (183.923), dan 2007 melonjak menjadi 185.527 jiwa. Sedangkan 2008 sampai Februari 2009, angka Penduduk sudah menembus 213.442 jiwa. Data tersebut sesuai yang terdaftar pada Dinas Sosial Kependudukan, Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Enrekang. “Jadi memang ada peningkatan
jumlah penduduk dari tahun ke tahun yang cukup pesat. Untuk meredam laju penduduk, itu menjadi tugas Badan Keluarga Berencana (KB) dan Pemberdayaan Perempuan,” kata Kepala Bidang Kependudukan Dinas Sosial Kependudukan Tenaga Kerja, dan Transmigrasi Enrekang, Tamar di ruang kerjanya, Senin, 30 Maret. Kepala Badan KB dan Pemberdayaan Perempuan Enrekang, Umar Talitti yang ditemui terpisah mengatakan bahwa untuk menekan laju penduduk tersebut, pihaknya akan mengefektifkan pelaksanaan KB, khusus bagi usia produktif. “Tahun ini juga kami sudah bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi untuk pelaksanaan KB di
Enrekang. 2009 ini, sasaran KB ditingkatkan,” tandasnya. (FAJAR)

Selasa, 24 Maret 2009

ENREKANG — Pembangunan Pusat
Kesehatan Masyarakat Pembantu
(Pustu) Cece, Desa Sumillan Kecamatan
Alla, Kabupaten Enrekang terbengkalai.
Penyebabnya, kontraktor
yang mengerjakan proyek tersebut
kabur sebelum rampung.
Pustu tersebut dibangun dengan
menggunakan Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah (APBD) 2008
lebih kurang Rp 200 juta. Namun
sampai saat ini Pustu tersebut belum
selesai.
Akibat ditinggal kontraktornya,
kondisi bangunan yang belum dipasangi
atap tersebut kini dipenuhi
rumput. Menurut masyarakat setempat,
pengerjaan Pustu tersebut terhenti
sejak Agustus 2008.
“Ini yang menjadi pertanyaan masyarakat
mengapa tidak diselesaikan
kontraktornya, padahal warga sudah
mewakafkan tanahnya untuk dijadikan
sebagai lokasi pembangunan
Pustu dengan harapan pelayanan kesehatan
bisa lebih dekat,” kata warga
Desa Sumillan, Syamsul Mattoreang,
Senin, 23 Maret.
Menurut Syamsul, bidan desa selama
ini hanya memanfaatkan rumah
dinas yang berukuran 3x3 meter sebagai
tempat melayani warga untuk
berobat.
Kepala Dinas Kesehatan Enrekang,
Iriani ketika dikonfirmasi kemarin
juga heran Pustu Desa Sumillan
terbengkalai. “Saya juga tidak
tahu mengapa kontraktornya (CV
Aroma Utama Corp, red) tidak menyelesaikan
pekerjaan. Yang jelas,
tidak ada kerugian keuangan dalam
proyek ini karena kita hanya membayarkan
sesuai dengan realiasasi fisik
pekerjaan,” kata Iriani.
Iriani berjanji akan melanjutkan
pekerjaan pembangunan Pustu tersebut
tahun ini agar segera dimanfaatkan
warga.

Selasa, 02 Desember 2008

PASAR AGRO SUMILLAN,SEKARANG JADI SURGA PETANI

Sudah Beberapa hari tampak keceriahan diwajah para petani yang sedang memasarkan hasil jerih payah mereka. Tidak sama seperti biasanya para petani jika datang dipasar Agrobisnis Sumillan, baru masuk lokasi pasar sudah layu daun tidak ada semangat untuk melakukan transaksi jual beli. Kadangkala juga ada petani yang hanya mengantar hasil pertanian mereka langsung pulang, hasil pertanian mereka dititip sama para pedagang untuk dijual.

Cara seperti ini sering dilakukan karena para petani menganggap lebih menguntungkan dari pada mereka tinggal menjual. Beberapa petani yang kami hubungi mengatakan bahwa mereka hanya mengantar hasil pertanian ke pasar kemudian langsung ditinggalkan. "Kol kami titip saja sama pedagang, terserah mau jual berapa. nanti mereka akan kasih uang kami dikampung jika sudah pulang", ungkap salah sorang petani kol asal Baroko. "Cara seperti lebih efisien dan lebih efektif karena masih banyak pekerjaan yang akan kami selesaikan dikampung", lanjutnya lagi.

Tetapi keadaan sudah berupa sedikit demi sedikit, sudah empat kali pertemuan pedagang dan petani dipasar terlihat ramai. ini dikarenakan seluruh hasil pertanian mengalami kenaikan harga. seperti kol dulunya harga petani hanya berani menjual 500 rupiah sekarang dijual dengan harga 2.000 sampai 2.500 rupiah. kentang dari harga 3.500 menjadi 7.500 sampai 8.000. begitupun dengan bawang merah dan cabe.

Kondisi seperti ini sangat diharapkan para petani kedepan. Mengingat biaya yang dikeluarkan petani setiap panen tidak sedikit, dengan keadaan harga sekarang, sangat membantu para petani untuk meningkatkan produksi pertanian setiap tahun. "Kami sangat mengharapkan Pemerintah kita untuk tetap memperhatikan nasib kami. sekiranya dengan keadaan harga sekarang kami bisa sudahn bisa bernapas sedikit. sudah lama kami menantikan harga barang semacam ini, semoga harga tidak turun-turun lagi", ungkap petani desa tongko.