Selasa, 11 Oktober 2011

Jumlah Pemilih Enrekang Bertambah 50.440 Jiwa



ENREKANG — Komisi Pemilihan Uumum (KPU) Enrekang, melansir jumlah pemilih di Kabupaten Enrekang pada Pikada 2013 mendatang akan bertambah menjadi 50.440 Jiwa. Atau dari 133.770 jiwa menjadi 184.210 jiwa. 
Ketua KPUD Enrekang, Usman Abdullah mengatakan, peningkatan tersebut seiring dengan jumlah penduduk Enrekang yang juga kian meningkat. Wilayah Duri Kompleks disebutkan memiliki jumlah penduduk terbanyak dibandingkan dengan wilayah Kecamatan Enrekang dan Maiwa. Wilayah duri kompleks yang dimaksud meliputi Kecamatan Alla, Baraka, Curio, Anggeraja serta Kecamatan Baroko. Divisi Sosialisasi KPUD Enrekang, Rahmawati Karim menambahkan, peningkatan jumlah tersebut otomatis mempengaruhi TPS (Tempat Pemungutan Suara) yang akan dipakai. “Tahun lalu pada pemilu legislatif, kita pakai 475 TPS. Dengan maksimal 500 orang per TPS. Tapi untuk pilkada nanti paling banyak 600 orang per TPS. Jadi kemungkinan jumlah TPS nanti yang akan dipakai juga akan bertambah,” katanya. Pelaksanaan pilkada di daerah itu telah ditetapkan akan dihelat 29 Agustus. Hal itu sesuai kesepakatan yang dilakukan 3 KPU, Sidrap, Enrekang dan Parepare yang sepakat menggelar Pilkada secara serentak. Selain persoalan aturan, tenggat waktu yang ditetapkan tersebut juga diputuskan atas pertimbangan bulan Ramadan 2013 nanti. “18 Agustus 2013 kan tepat hari raya idul fitri. Jadi sudah tepat kalau pelaksanaan pilkada setelah itu. 14 hari kampanye serta tiga hari masa tenang diakomodir setelah masa puasa dan lebaran di tahun itu,” pungkas Usman. (parepos)

Penyakit Stroke Dominan di Enrekang


ENREKANG — Data yang dilansir Dinas kesehatan Enrekang berdasarkan laporan dari puskesmas serta RSU Massenrempulu menyebutkan, penyakit dengan kategori tidak menular yakni stroke menempati peringkat pertama yang banyak menyerang warga di Kabupaten Enrekang. 
Sementara untuk penyakit yang menular diare serta infeksi saluran penrnafasan atas (ISPA) yang menempati urutan pertama. Hal itu disampaikan Kadis Kesehatan Enrekang, Muhammad Yamin, Selasa kemarin. Dijelaskannya untuk saat ini penyakit non menular yakni Stroke paling banyak menyerang warga Enrekang. “Tiga besar penyakit kategori non menular yang menyerang warga di Enrekang adalah stroke, hipertensi serta kencing manis. Untuk yang menular diare serta beberapa penyakit akibat ISPA,” jelasnya. Salah satu penyebab penyakit ini adalah akibat konsumsi makanan yang berlebihan dan tidak sehat sehingga mengakibatkan berkurangnya suplai oksigen atau darah ke otak. “Mungkin karena beberapa bulan terakhir ini ini banyak warga yang menggelar acara syukuran serta pesta pengantin maka banyak warga yang mengkonsumsi makan tinggi lemak. Makanya banyak warga yang terserang penyakit stroke. Belum lagi adanya pola pikir sebagaian warga yang merasa rugi jika tidak mengkonsumsi makanan secara berlebihan karena telah memberika amplop pada yang punya hajatan,” jelas M Yamin. Ditambahkan M Yamin, untuk kebutuhan obat di Kabupaten Enrekang saat ini masih dalam kategori aman. “Untuk ketersedian obat masih dalam kondisi aman. Bahkan saat ini gudang stok obat masih penuh dan bisa bertahan hingga beberapa bulan kedepan,” jelasnya. (mur/din)

JCH Tertua 91 Tahun, Termuda 18 Tahun



ENREKANG — Rencananya, 189 jamaah calon haji (JCH) asal Kabupaten Enrekang, Kamis, 13 Oktober besok akan dilepas secara simbolis oleh Bupati Enrekang, Haji La Tinro La Tunrung menuju asrama haji Sudiang untuk kemudian diberangkatkan 14 Oktober ke tanah suci. 
Menurut Kasi Haji, Muh Tasier, Selasa kemarin, dari 189 Calon Jamaah Haji Enrekang yang tergabung dalam kelompok terbang (kloter)16, usia tertuanya adalah 91 tahun atas nama Samsuddin Dassi dari Baraka. Sementara jamaah termuda atas nama Andi Nur Fitriani Budiamin dengan umur 18 tahun. Ia mengungkapkan, seluruh calon jamaah haji sudah melakukan pemeriksaan tes kesehatan serta telah melengkapi syarat-syarat administrasi sehingga dianggap layak untuk berangkat. Rencananya, 31 Oktober mendatang, 10 jamaah calon haji Enrekang yang tergabung dalam kloter 44 bersama CJH Sidrap, Bulukumba dan Gorontalo juga akan diberangkatkan menyusul. “Calon Jamaah Haji Enrekang tergabung dalam dua kloter. Yang pertama kloter 16 berangkat 14 Oktober dan yang ke dua masuk dalam kloter 44 yang berjumlah 10 orang. Jadi total CJH Enrekang ada 199 orang. Dari 199 calon jamaah haji Enrekang, dua diantaranya adalah petugas kesehatan serta ketua rombangan,” jelas-nya. (Parepos)

Selasa, 04 Oktober 2011

324 Klub Sepakbola Wajib Ikut Kompetisi

ENREKANG — Untuk menginventarisir klub sepakbola serta para pemain sepakbola yang ada di Kabupaten Enrekang, Pengurus Cabang (Pengcab) PSSI Enrekang berencana menggelar kompetisi antarklub.

Saking seriusnya, Pengcab mewarning setiap klub sepakbola yang tidak ambil bagian di kegiatan yang direncanakan bergulir selama 4 bulan, secara otomatis tidak akan terdata di PSSI Enrekang. Ketua Pengcab PSSI Enrekang Chairul Latanro, Senin kemarin, menegaskan, kompetisi akan dimulai dari tingkat kecamatan. 5 besar klub di setiap kecamatan, selanjutnya mewakili daerahnya untuk berlaga di tingkat Kabupaten. “Klub yang tidak ikut kompetisi yang akan mulai digelar bulan ini, secara otomatis tidak akan terdaftar di Pengcab PSSI Enrekang,” ancamnya. Peraturan lain, kata Kepala DPKAD itu, sementara digodok dan salah satunya mewajibkan seluruh tim sepakbola untuk menggunakan pemain lokal. Pengunaan pemain lokal diberlakukan untuk persiapaan Gasma Enrekang yang akan berlaga di ajang Divisi I. Bukan itu saja, kompetisi antarklub juga akan dijadikan wadah pembinaan, dimana akan ada pembagian klub. 

Klub yang lolos di tingkat kecamatan statusnya akan dinaikkan dan bermain di level yang lebih tinggi, sementara yang tidak lolos, akan bermain di level rendah. Pola ini mencontoh pola pembinaan sepakbola nasional yakni ada level Divisi I,II, Utama dan Profesional. “Nantinya akan ada sistem degradasi, pemain yang ingin pendah klub juga wajib melaporkannya ke Pengcab PSSI, tidak sembarang ambil pemain, semua regulasi diatur,” bebernya. Untuk menghindari adanya konflik kepentingan politik di kegiatan ini, 

Chairul secara tegas melarang setiap klub untuk menggunakan atribut figur calon kepala daerah serta tidak dibenarkan menggunakan bendera serta spanduk yang bernuansa politik. “Spanduk yang boleh terpasang hanya boleh dari panitia atau sepengetahuan panitia. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya gesekan terkait sosialisasi para tokoh yang akan maju di pilkada Enrekang 2013 mendatang,” pungkasnya. (mur/din)

Seleksi Dirut Perusda Hanya Dihadiri 2 Calon

ENREKANG — Seleksi Direktur Utama Perusahaan Daerah (Perusda) Mata Allo Enrekang, yang berlangsung, Senin, 3 November kemarin hanya diikuti dua calon yakni Suapri Gafari serta Herman D.
 
Keduanya menjalani propert test yang dilakukan Pemkab Enrekang untuk menggantikan posisi Alfian yang mengundurkan diri dari jabatan tersebut. Calon lainnya, Gazali Yunus, belum sempat hadir. Panitia seleksi memberikan waktu hingga Rabu depan untuk menjalani proses seleksi. Sekda Enrekang, HM Amiruddin yang dikonfirmasi usai proses seleksi mengatakan, pihaknya masih menunggu kedatangan Gazali Yunus, salah seorang putra Enrekang yang bermukim di Bekasi. Dijelaskannya, proses seleksi akan tetap berproses, bahkan, bisa saja akan dibuka pendaftaran ulang, jika 3 calon ini dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan. Hal senada juga disampaikan tim seleksi Chairul Latanro. Menurutnya Gazali Yunus diberikan waktu hingga hari Rabu, 5 November besok, jika hingga batas waktu tersebut belum juga hadir, maka yang bersangkutan dianggap gugur. “Selain saya, ada Asisten I, Kabag Hukum yang melakukan seleksi, hasilnya akan kita sampaikan ke bupati untuk ditindaklanjuti,” beber Chairul. 

Modal Koran Bekas Terpisah, Direktur Perusda Mata Allo, Alfian membantah pemberitaan yang mengatakan bahwa modal awal Persuda Mata Allo mencapai Rp5,5 miliar saat ditanganinya. Ia mengaku modal awal berdirinya perusda hanya Rp5,5 juta, itupun melalui hasil penjualan koran bekas. “Hingga saat ini, belum ada modal awal yang saya terima dari Pemkab Enrekang.Memang di Perda mengatur bahwa modal awal berdirinya perusda diberikan Rp300 juta dari pemerintah daerah. Namun sebelum saya menjadi dirut Perusda, Perusda sudah pernah dimulai di tahun 1986 lalu. Hingga saat ini belum ada kejelasaan apakah perusda yang dikelolaah ditahun 86 telah mengambil modal awal atau belum.

Makanya saya tidak mengambil modal awal tersebut,” jelas Alfian. Untuk menghidupkan perusda Mata Allo, Alfian mengaku harus menjual bibit pohon kepada rekanan (sub) yang memenangkan tender pengadaan bibit pohon di Kabupaten Tana Toraja. “Tidak benar yang dikatakan sebagian anggota DPRD Enrekang bahwa Perusda Mata Allo tidak memberikan kontribusi kepada PAD. Perusda Mata Allo sudah pernah mensuplai PAD Rp500 juta. Rp400 juta melalui bagi hasil serta Rp100 juta dari sewa kontrak villa Bambapuang,” tegasnya. Perusda Mata Allo, kata dia, juga sudah menyalurkan dana Rp400 juta untuk operasional bus sekolah. Serta penyaluran kredit motor bagi PNS utamanya guru, penyuluh pertanian serta tenaga kesehatan. “Untuk cicilan sepeda motor tersisa Rp900 juta, tahun ini akan terkumpul Rp500 juta,” katanya. Alfian sendiri mundur sebagai Dirut Perusda dengan alasan keluarga yang kini menetap di Makassar. (parepos).